Menghadapi Tantrum Balita: Pengalaman Ibu di Tambolaka

Pagi itu di pasar Tambolaka, anak saya yang baru tiga tahun tiba-tiba jatuh ke lantai sambil nendang dan jerit minta beli jajan. Saya yang udah capek banget hampir ikut stres. Tapii setelah beberapa kali kejadian serupa, saya sadar bahwa respons saya sendiri yang menentukan jalannya pertengkaran. Tantrum bukan perilaku jahat, melainkan bahasa emosi yang belum bisa diungkapin dengan kata-kata. Inilah cara saya belajar menjalaninya.
Mengelola Tantrum dengan Tenang dan Konsisten
Kunci pertama adalah tetap tenang. Saya tarik napas dalam, lalu berjongkok sejajar dengan mata anak. Saya tidak bentak atau ancam, cukup bilang pelan, “Ibu tahu kamu marah. Tapi kita gak beli jajan sekarang.” Setelah itu, saya tunggu tanpa banyak omongan. Biasanya tangis mulai mereda dalam dua menit.
Kedua, konsisten. Saya dan suami sepakat: kalau sudah bilang tidak, ya tidak. Meski anak merengek setengah jam, kami gak ubah keputusan. Anak pun belajar bahwa tantrum gak akan mengubah aturan. Ketiga, alihkan perhatian. Saat di rumah, saya ajak ia main balok atau gambar setelah reda. Ngaliin ke aktivitas positif membantu ia lupa penyebab marah. Saya juga selalu ingetin bahwa emosi itu wajar, tapi cara ngekspresikannya bisa dilatih. Perlahan, frekuensi tantrum berkurang.
Sekarang ia sudah bisa bilang “Ibu, aku marah” tanpa teriak-teriak.
Komparasi langsung ada di ibu anak praktis.
Setiap anak berbeda, tapi prinsip tenang dan konsisten selalu bantu. Tantrum adalah fase yang bakal berlalu. Yang penting, kita sebagai ibu tetap jadi tempat aman buat anak belajar ngelola emosi.
Untuk konteks lebih: sumber resmi